Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Langkah-langkah Pesiapan FGD (Focus Group Discussion)

FGD adalah salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif; di mana sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang fasilitator atau moderator mengenai suatu topik. Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam pelaksanaan focus group discussion (FGD)

Persiapan FGD

Fasilitator dan pencatat harus datang tepat waktu sebelum peserta datang. Fasilitator dan pencatat (notulen) sebaiknya bercakap-cakap secara informal dengan peserta, sekaligus mengenal nama peserta dan yang menjadi perhatian fasilitator maupun pencatat. Sebelum FGD dilaksanakan perlu ada persiapan-persiapan sebagai berikut (Krueger, 1988):

1. Menentukan jumlah kelompok FGD

Untuk menentukan jumlah kelompok yang dibutuhkan perlu ditetapkan terlebih dahulu hipotesa topik yang akan diteliti. Misalnya apakah jenis kelamin, umur, pendidikan, status sosial ekonomi penting bagi topik penelitian. Pedoman dalam menentukan jumlah kelompok:

  • Minimal 2 kelompok pada tiap kategori. Misalnya melaksanakan 2 kelompok pada tiap-tiap segmen populasi, seperti kelompok pengguna Posyandu dan kelompok non pengguna, kelompok laki-laki dan kelompok wanita. Hal ini dilakukan karena tiap segmen dianggap berbeda perilaku dan sifatnya.
  • Bahasan kelompok bervariasi. Misalnya menilai mutu pelayanan kesehatan, maka tanggapan dari kelompok kedua akan membiaskan tanggapan dari kelompok pertama. Demikian pula bila ada kelompok ketiga dan seterusnya.
  • Sampai tidak ada informasi baru. Perlu dilaksanakan pada beberapa kelompok sampai diperoleh informasi yang secara umum sejalan dengan sebelumnya. Bila dari 2 kelompok diperoleh informasi yang berbeda maka perbedaan tersebut perlu ditelusuri pada beberapa kelompok lagi, sampai informasi yang diperoleh dapat dimengerti dan digunakan.Ada makna dalam letak geografis. Bila letak geografis memberikan perbedaan pandangan, gaya hidup, perilaku maupun angka kesakitan maka perlu dilakukan di tiap wilayah geografis.

2. Menentukan komposisi kelompok FGD

  • Kelas sosial. Dalam satu kelompok sebaiknya peserta mempunyai status sosial yang sama untuk menghindari terjadinya ketimpangan. Peserta dengan status sosial lebih tinggi cenderung lebih dominan daripada yang status sosialnya rendah.
  • Status hidup. Peserta yang mempunyai status hidup yang berbeda, seperti umur, status perkawinan, sebaiknya tidak disatukan dalam satu kelompok karena pengalaman yang berbeda akan memberikan informasi yang berbeda pula.
  • Status spesifik tertentu. Status spesifik tertentu yang berhubungan dengan tujuan penelitian seperti peserta KB dan non peserta KB yang melaksanakan ANC di tenaga kesehatan dan ANC di non tenaga kesehatan, tidak boleh disatukan ke dalam satu kelompok karena akan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap suatu masalah.
  • Tingkat keahlian. Peserta yang memiliki tingkat keahlian maupun pengalaman yang berbeda terhadap sesuatu sebaiknya tidak disatukan dalam satu kelompok karena akan memengaruhi tanggapan mereka terhadap sesuatu masalah.
  • Perbedaan budaya. Peserta dengan perbedaan budaya sebaiknya tidak disatukan dalam satu kelompok, karena budaya yang dianutnya biasanya akan memengaruhi sikap dan perilakunya terhadap topik yang didiskusikan.
  • Jenis kelamin. Apabila topik diskusi berkaitan dengan jenis kelamin maka peserta harus dipisahkan. Namun jika tidak, maka peserta pria dan wanita dapat disatukan dalam satu kelompok FGD.

3. Menentukan tempat diskusi FGD

Faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan tempat FGD yaitu:

  1. Mendatangkan rasa aman. Lokasi harus dipilih di tempat di mana peserta merasa aman untuk berbicara dan berpendapat karena tidak diamati oleh orang di luar kelompok.
  2. Nyaman. Pilih tempat yang nyaman bagi peserta, dalam arti tidak terlalu sempit dan panas, sehingga mengganggu jalannya diskusi.
  3. Lingkungan yang netral. Jangan pilih tempat yang dapat memengaruhi tanggapan peserta, sehingga tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dirasakannya. Hindari tempat yang menimbulkan suasana intimidasi. Contoh, bila ingin mendiskusikan masalah kualitas pelayanan kesehatan maka jangan dilakukan di tempat pelayanan, seperti Puskesmas, Rumah Sakit, dan lain-lain.
  4. Mudah dicapai peserta. Sebaiknya dilakukan di tempat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal peserta, karena faktor kelelahan dapat memengaruhi tanggapan peserta. Pilih tempat yang mudah dijangkau alat transportasi, dan jika perlu sediakan tempat penitipan anak agar peserta yang punya anak dan tak bisa ditinggalkan, bersedia datang.
  5. One way mirror screen. Di negara-negara maju, FGD dilaksanakan di ruang kaca satu arah, di mana selama diskusi berlangsung dapat diobservasi oleh pihak luar (dalam hal ini peneliti) tanpa diketahui oleh peserta diskusi sehingga tidak memengaruhi tanggapan yang diberikan.

4. Pengaturan tempat duduk

Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga peserta terdorong mau berbicara. Sebaiknya peserta duduk dalam satu lingkaran bersama- sama fasilitator. Pencatat biasanya duduk di luar lingkaran. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengatur tempat duduk adalah:

  • Hindari pengurutan status. Urutan duduk peserta sebaiknya dilakukan secara acak, sehingga tidak memengaruhi tanggapan peserta.
  • Memungkinkan fasilitator bertatap mata dengan peserta. Hal ini penting dilakukan untuk mengendalikan kelompok, mendorong peserta pemalu dan pendiam serta membatasi peserta dominan.
  • Jarak yang sama antara fasilitator dengan tiap peserta. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong interaksi dan perasaan sebagai bagian dari kelompok, sehingga seluruh peserta bisa berperan aktif dalam diskusi.

5. Menyiapkan undangan

Agar FGD memperoleh hasil yang baik, peserta FGD harus homogen yaitu mempunyai persamaan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain. Pada waktu mengundang peserta, ada beberapa yang perlu diperhatikan yaitu:

  • Menjelaskan kepada calon peserta mengenai lembaga yang mengadakan penelitian dan tujuannya. Namun peserta tidak perlu tahu secara mendetail perihal topik yang akan didiskusikan sebelum dimulai agar peserta tidak membuat opini sebelum memasuki sesi. Hal ini tidak berlaku untuk yang bertujuan mendapatkan feedback terhadap pengetahuan peserta, contohnya peserta yang menjalankan fungsi sebagai mediator atau provider.
  • Menjelaskan rencana dan meminta calon peserta untuk berpartisipasi. Menyebutkan juga beberapa orang yang telah bersedia ikut serta agar calon peserta lain ikut berpartisipasi.
  • Memberitahukan tanggal, waktu, tempat dan lamanya pertemuan.
  • Apabila seseorang tidak mau atau tidak dapat datang, maka tekankan pentingnya kontribusi orang tersebut. Dan jika tetap menolak maka ucapkan terima kasih.
  • Jika orang tersebut mau datang maka beritahukan kembali tentang hari, jam, tempat dan pentingnya berpartisipasi.

6. Menyiapkan fasilitator

Fasilitator haruslah seorang yang peka, serta perhatian terhadap adanya perbedaan peserta dalam sebuah kelompok. Jika memungkinkan, fasilitator dipilih seorang yang secara demografi mempunyai kesamaan dengan peserta (etnis, usia, penghasilan, gender, dan lain-lain)

Standar minimal yang perlu dikuasai oleh fasilitator adalah tujuan dan topik sehingga mampu memahami diskusi yang berlangsung dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Kemampuan fasilitator dalam membaca bermacam-macam respons peserta, dengan tetap menjaga agar diskusi tetap pada jalurnya, juga sangat penting.

Fasilitator bisa berasal dari tenaga profesional (dengan menggaji seorang fasilitator yang sudah terlatih), atau salah seorang tim peneliti yang dianggap mampu. Fasilitator profesional adalah fasilitator yang telah dilatih untuk mampu menjaga netralitas, tidak menghakimi, dan memimpin diskusi serta memberi pertanyaan secara jelas tapi ringkas. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan jika memakai fasilitator profesional adalah sebagai berikut :

  • Temui calon fasilitator untuk mengetahui kemampuan interpersonal dan tingkah lakunya. Kepribadian fasilitator dapat memengaruhi respons peserta. Apakah calon fasilitator bijaksana dan ramah, apakah orang ini pendengar dan penanya yang baik?
  • Sedapat mungkin dengarkan hasil rekaman baik audio atau video sesi FGD yang pernah dipimpin oleh calon fasilitator tersebut.
  • Lihatlah salinan laporan singkat maupun tuntunan wawancara yang telah dibuat oleh fasilitator dalam FGD terdahulu.

Jika tidak ada dana untuk menggaji seorang profesional, fasilitator dapat direkrut dari tim peneliti yang telah mempunyai pengalaman sebagai fasilitator. Kuncinya adalah: pilih seorang yang mampu bersikap objektif dan tidak defensif saat berbicara dengan orang lain.

Peranan fasilitator adalah sebagai berikut:

  • Menjelaskan tentang topik diskusi.
  • Memahami topik diskusi sehingga dapat menguasai pertanyaan. Seorang fasilitator tidak perlu seorang ahli yang berkaitan dengan topik diskusi.
  • Melakukan pendekatan kepada peserta sehingga peserta terdorong untuk mengeluarkan pendapatnya. Fasilitator yang mempunyai rasa humor menjadi nilai plus dalam memimpin sebuah FGD.
  • Mampu mengarahkan kelompok, bukan sebaliknya.
  • Bertugas mengajukan pertanyaan dan tetap netral terhadap jawaban peserta. Memastikan kepada peserta bahwa tidak ada jawaban mereka yang benar atau salah. Tidak boleh memberikan persetujuan atau ketidaksetujuan terhadap jawaban yang akan memengaruhi pendapat peserta.
  • Mengamati peserta dan tanggap terhadap reaksi para peserta. Mendorong semua peserta untuk berpartisipasi dan tidak membiarkan sejumlah individu memonopoli diskusi. Perlu disadari bahwa dinamisitas sebuah kelompok bisa menimbulkan dampak tak terprediksi bagi peserta. Sebagai contoh, seorang peserta yang dominan, bisa menjadikan peserta lain malas berbicara. Contoh lain adalah sebuah komentar jujur peserta, ternyata dapat memancing peserta lain untuk memberikan respons yang lebih jujur lagi.
  • Menciptakan hubungan baik dengan peserta sehingga dapat menggali jawaban dan komentar yang lebih dalam.
  • Fleksibel dan terbuka terhadap saran, perubahan mendadak dan lain-lain.
  • Mengamati komunikasi non verbal (gerakan tangan, perubahan raut wajah) antar peserta dan tanggap terhadap hal tersebut.
  • Hati-hati terhadap nada suara dalam mengajukan pertanyaan. Peserta akan merasa tidak senang apabila nada suara fasilitator memperlihatkan ketidaksabaran, dan tidak bersahabat.
  • Mengusahakan tidak ada interupsi dari luar pada waktu FGD berjalan.
  • Menganalisa data dengan menggunakan proses induktif. Fasilitator juga bertugas memberikan laporan tertulis yang secara singkat berisi temuan-temuan meliputi pengertian, tren, pola dan tema yang muncul selama diskusi. Potongan-potongan komentar peserta dapat digunakan untuk menggambarkan ide-ide yang muncul selama FGD. Jadi tugas fasilitator bukan sekedar menghubungkan pendapat/opini peserta melainkan menyampaikan isu yang muncul dari kelompok diskusi. Fasilitator perlu mempersiapkan petunjuk diskusi agar diskusi dapat terfokus. Petunjuk diskusi ini berupa daftar pertanyaan terbuka (open ended). Sekalipun menggunakan semacam tuntunan diskusi, seorang fasilitator wajib mendorong peserta untuk berbicara secara bebas dan spontan.

7. Menyiapkan pencatat (notulen) FGD

Pencatat berlaku sebagai observer selama FGD berlangsung dan bertugas mencatat hasil diskusi. Catatan hasil FGD harus ditulis lengkap, yang meliputi:

  • Tanggal pertemuan, waktu mulai dan waktu selesai.
  • Nama lingkungan dan catatan singkat mengenai lingkungan tersebut serta informasi lain yang mungkin dapat memengaruhi aktivitas peserta, misalnya jarak yang harus ditempuh peserta ke tempat FGD.
  • Tempat pertemuan dan catatan ringkas mengenai tempat serta sejauh mana tempat tersebut memengaruhi peserta. Misalnya apakah tempat tersebut cukup luas, menyenangkan peserta dan lain-lain.
  • Jumlah peserta dan beberapa uraiannya yang meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan lain-lain.
  • Deskripsi umum mengenai dinamika kelompok. Contoh gambaran partisipasi peserta, apakah ada peserta dominan, peserta yang menunjukkan kebosanan, peserta yang selalu diam dan lain-lain.
  • Pencatat harus menuliskan kata-kata yang diucapkan dalam bahasa lokal oleh peserta.
  • Pencatat memperingatkan kepada fasilitator kalau ada pertanyaan yang terlupakan atau juga mengusulkan pertanyaan yang baru.
  • Pencatat dapat meminta peserta untuk mengulangi komentarnya apabila fasilitator tidak dapat mendengarkan komentar peserta tersebut karena sedang mendengarkan komentar peserta lain.

8. Menyiapkan perlengkapan FGD

Agar pelaksanaan berjalan dengan baik maka perlu dipersiapkan terlebih dahulu peralatan maupun perlengkapan yang dibutuhkan dalam FGD. Misalnya: alat untuk mencatat hasil (notes atau notebook/laptop), tape atau video recorder, kaset, baterai, petunjuk diskusi, serta gambar atau foto- foto apabila dibutuhkan. Dengan adanya media rekaman maka sikap verbal dan non verbal dapat dilihat kembali setelah FGD selesai dilakukan


Post a Comment for "Langkah-langkah Pesiapan FGD (Focus Group Discussion)"